Kajian Telapak Ekologis Pada KSN Perkotaan
Sesuai dengan amanat PP No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), kini tengah disusun arah kebijakan pengembangan Kawasan Strategis Nasional (KSN) Perkotaan di Cekungan Bandung dan Gerbang Kertasusila. Kedua KSN Perkotaan tersebut memiliki makna strategis dalam pembangunan wilayah nasional karena perannya sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi kawasan/wilayah, namun sejak beberapa tahun belakangan mengalami degradasi kualitas lingkungan. Fenomena tersebut dikenal dengan ecological overshoot.

Secara singkat, buku ini menyajikan profil 2 (dua) KSN Perkotaan tersebut diatas yang meliputi karakteristik dan data kawasan sesuai dengan kebutuhan analisis telapak ekologis, yang dilengkapi dengan aplikasi kuantitatif model telapak ekologis dan rekomendasi hasil perhitungannya.


Daftar Isi
I. Pendahuluan
  Total jumlah lahan darat dan laut yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup suatu populasi, dengan memperhatikan gaya hidup populasi tersebut, kemudian disebut telapak ekologis. Telapak ekologis memperhitungkan konsumsi air, lahan, dan energi dari tiap kegiatan manusia, pada berbagai tingkatan kebutuhannya, dibandingkan dengan sumber daya alam yang tersedia. Lebih lanjut dapatlihat bahwa selain konsumsi dari suatu populasi, konsep telapak ekologis juga memperhitungkan pertukaran barang atau perdagangan, serta investasi. Hasil studi ini kemudian dapat dipergunakan untuk memperkirakan daya dukung lingkungan di masa mendatang, dan selanjutnya hasil proyeksi tersebut dapat dipergunakan untuk merumuskan berbagai kebijakan pembangunan yang berbasis keberlanjutan lingkungan.
II. Kajian Teori
  Pada prinsipnya, pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya kelak (WCED, 1987). Oleh karenanya pembangunan berkelanjutan memerlukan sebentuk perencanaan yang matang dan aplikatif. Sementara itu, telapak ekologis merupakan sebuah alat perencanaan yang dapat membantu menerjemahkan konsep keberlanjutan ke dalam tataran kesadaran publik.
III. Profil Wilayah Kajian
  Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis nasional (PP No. 26 Tahun 2008). Penetapan tersebut memberi konsekuensi meningkatnya arus migrasi. Tidak hanya aliran manusia, berbagai macam komoditas mengalir keluar masuk kawasan Cekungan Bandung. Kebutuhan air dan lahan pun meningkat pesat seiring dengan penetrasi laju pertumbuhan penduduk di kawasan ini.
Isu-isu tekanan wilayah yang dialami oleh kawasan Gerbangkertosusila khususnya kota Surabaya terkait dengan pertambahan penduduk salah satunya diakibatkan karena kebelumberhasilan misi yang dicapai setelah beroperasinya Jalan Tol Suramadu. Dengan membuka akses menuju Pulau Madura, dengan Kabupaten Bangkalan sebagai pintu gerbangnya, pada awalnya bertujuan untuk mengembangkan Pulau Madura sebagai daerah tujuan serta pengembangan perekonomian di Pulau Madura, khususnya Kabupaten Bangkalan.
IV. Aplikasi Telapak Ekologis untuk KSN Perkotaan
 Pada akhirnya telapak ekologis merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur keberlanjutan pengembangan wilayah. Beberapa komponen yang dianalisis pada Telapak Ekologis ini adalah: lahan pertanian, lahan penggembalaan/peternakan, lahan perikanan, kawasan perikanan, karbon, dan lahan terbangun.
V.Rekomendasi Hasil Perhitungan Telapak Ekologis
 Pada dasarnya kota/kawasan perkotaan tidak pernah berkelanjutan, karena proses urbanisasi sejak dahulu kala seringkali dikaitkan dengan beban/dampak terhadap wilayah belakangnya. Kota-kota selalu mengeksploitasi surplus pangan dan material yang dihasilkan di wilayah belakangnya, dan dengan demikian menganggu sistem ekologis yang sebelumnya bersifat lebih siklus. Kawasan perkotaan pada dasarnya merupakan tempat konsentrasi konsumsi terhadap SDA dan pencemar.
Keterangan:
Link download buku ini belum tersedia.
2012, SUD Forum Indonesia